Prosedur Hak Paten Lama Hambat Produksi Perajin

1

19 Maret 2010 oleh hendri tanias

Dinas Perindustrian Provinsi Bali dan beberapa perajin mengeluhkan masih panjang dan lamanya birokrasi dalam prosedur pengurusan merek dan rancangan yang merupakan bagian dari hak atas kekayaan intelektual. Alasannya, panjangnya birokrasi tersebut menghambat produksi kerajinan. “Selain menghambat produksi, hal itu juga menghambat sehingga para perancang kerajinan menjadi malas berkarya. Padahal, masyarakat Bali merupakan orang-orang kreatif,” kata Kepala Subdinas Perindustrian Provinsi Bali I Nyoman Suwirya Patra, Selasa (14/6).

Menurut Suwirya, apabila prosedur tersebut dapat diperpendek, hal tersebut dapat membantu industri-industri di Bali, terutama yang berbasis pada buatan tangan. Ia mengatakan, dinas perindustrian sempat mengalami kesulitan menyosialisasikan hak paten rancangan dan merek kepada perajin dan pengusaha di Bali pada 2001.

Kini, lanjut Nyoman, mereka sudah merasa penting mengurus hak paten tersebut. “Akan tetapi, hal itu menjadi percuma dan sia-sia jika pihak pengurus HAKI masih tidak memperbaiki dan mempercepat birokrasi,” ujarnya.

Ia mencontohkan, prosedur pematenan suatu karya perajin bisa selesai sekitar setahun. Padahal, perajin butuh karya mereka segera dipasarkan. Idealnya, hak paten bisa keluar dalam sebulan. “Saat ini sudah zamannya teknologi canggih. Seharusnya bisa lebih cepat,” ungkapnya.

Selain panjangnya prosedur, Nyoman juga mengeluhkan biaya pengurusan yang serba tidak pasti. Hal senada dikeluhkan Direktur Industri Perhiasan Perak Suarti, Dewa Purnadjaja Tamanbali, yang mengatakan sering dibuat kesal dengan prosedur pengurusan merek. “Lama sekali mengurusnya, bisa lebih dari setahun. Kami sungguh tidak mengerti mengapa begitu panjang prosesnya. Biayanya pun tidak pasti,” ujarnya.

Karena lamanya, produksi perhiasan perak Suarti terpaksa berhenti karena harus menunggu hingga merek itu selesai dipatenkan. Karena khawatir produksi menjadi terhenti, Dewa memutuskan menunda niatnya untuk mematenkan rancangan-rancangan mereka.

“Kami trauma dan malas saja jika harus seperti itu prosedurnya. Produksi kan harus tetap berjalan dan memenuhi pesanan pasar,” ujar Dewa.

Suarti, industri perhiasan perak di Jalan Raya Celuk itu sudah berproduksi lebih dari 10 tahun. Sasaran pasarnya ke Jepang, Amerika, dan Eropa.

Keluhan tersebut juga diungkapkan beberapa perajin perhiasan perak di sekitar Jalan Raya Celuk lainnya. Akibatnya, mereka kini memproduksi berdasarkan pesanan saja.

“Setiap kali mendapat pesanan, rancangan perhiasan tidak pernah dibuat lagi atau ditawarkan lagi. Itu saja yang dapat kami lakukan untuk menjaga keaslian rancangan,” kata seorang pengurus salah satu perajin perak di Celuk.

Pada waktu lalu perajin bangga apabila rancangan dan karya perhiasan perak mereka ditiru perajin lainnya. “Alasannya sederhana, masing-masing perajin di Bali memiliki kekhasan dalam berkarya. Jadi tidak sama persis,” kata Dewa. Namun, kini mereka sadar perlunya melindungi karyanya.

Sumber : Kompas (15 Juni 2005)

One thought on “Prosedur Hak Paten Lama Hambat Produksi Perajin

  1. hendrininja47 mengatakan:

    Hak paten merupakan suatu bentuk perlindungan pemerintah dari segi hukum serta pengakuan dan penghargaan atas hasil karya sesorang yang dibuat dengan mengerahkan segala daya cipta dan segala daya usahanya sendiri sehingga menghasilkan produk yang memiliki karakteristik yang unik, baik bersifat produk inovation maupun produk invention. Pada dasarnya perlindungan akan hak paten ini haruslah dijalankan secara arif dan bijaksana oleh pemerintah, karena masalah ini baiknya dilihat secara luas dan global terutama terkait dengan jati diri bangsa.
    Bangsa yang besar merupakan bangsa yang memiliki peradaban yang baik dan maju, dimana peradaban manusia yang baik dan maju salah satu halnya dapat ditinjau dari segi budaya dan karya yang dihasilkan oleh bangsa tersebut. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dan memiliki budaya yang kaya dan hasil karya seni yang beragam dan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Oleh karena itu pemerintah sebaiknya memperhatikan betul masalah hak paten, terutama terhadap karya seni budaya bangsa guna menunjukan kepada bangsa lain bahwa bangsa kita bangsa indonesia merupakan bangsa yang besar. Permasalahan yang dihadapi saudara kita di Bali tersebut seharusnya tidak terjadi, pemerintah sebaiknya tidak melihat hak paten tersebut dari segi bisnis dan melakukan sistem birokrasi yang berbelit-belit dalam upaya pengakuan hak paten seseorang atas karyanya, bahkan seharusnya pemerintah memberikannya dengan cuma-cuma dan bersifat seperti penghargaan atas kontribusi yang diberikan masyarakat dalam rangka menunjukan jati diri bangsa Indonesia sehingga bansa kita tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Maret 2010
S S R K J S M
« Nov   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Maret 2010
S S R K J S M
« Nov   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 44,184 hits
%d blogger menyukai ini: